Setelah lebih dari 43 tahun mengamalkan tri dharma perguruan tinggi melalui penelitian, pengajaran dan pengabdian masyarakat, Prof. drh. Charles Rangga Tabbu, M. Sc., Ph. D. guru Besar Departemen Patologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM memasuki masa purna tugas pada bulan Juli 2018. 

Foto: Lulu

Prof. Charles dikenal sebagai ahli penyakit unggas yang berdedikasi tinggi dalam mendidik mahasiswanya dan juga berkontribusi langsung pada industri serta peternak ayam di Indonesia. Hasil riset dan kerja kerasnya telah menelurkan buku teks dan atlas yang sangat membantu mahasiswa serta peternak. Prof Charles juga pernah menjabat sebagai Anggota Komisi Ahli Kesehatan Hewan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan RI sejak tahun 2006, Ketua Dewan Pakar Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) (2011-2016), Dewan Pembina Komite Kesehatan Unggas Nasional (KKUN) sejak tahun 2011, Ketua Dewan Pakar Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Indonesia (GPPUI), serta Ketua Dewan Pakar ADHPI (2011-2016).

Dengan sederet kontribusi dan dedikasi Prof. Charles untuk keilmuan kedokteran hewan, mahasiswa dan peternak, sungguh berat untuk melepas Prof. Charles purna tugas. “Purna tugas bukan berarti purna segalanya. Namun justru sebagai awal pengabdian tidak ternilai harganya bagi FKH UGM. Karena sesungguhnya pengabdian yang mulia adalah dedikasi keilmuan yang tercurahkan bagi kemajuan FKH dengan ketulusan tanpa batas” ujar Dr. Drh. Rini Widayanti,  M.P selaku wakil dekan bidang penelitian, pengabdian masyarakat dan kerjasama dalam sambutannya pada seminar dan orasi ilmiah dalam rangka melepas Prof. Charles.

Foto: Lulu

Untuk itu, Dalam rangka menghantarkan Prof. Charles memasuki masa purna tugas, departemen patologi FKH UGM mengadakan seminar dan orasi ilmiah bertajuk “Mikotoksin dan dampaknya pada industri perunggasan di Indonesia” di Auditorium FKH UGM (12/7). Seminar yang dihadiri oleh dosen, mahasiswa pasca sarjana, alumni dan stakeholder di bidang perunggasan di Indonesia ini juga melibatkan dua pembicara asing yaitu Seung-Hwan Jeoung, dan Michael Lee Technical Sales Manager dari Biomin. Kedua pembicara tersebut juga turut yang menyampaikan materi mengenai “Mikotoksin berdampak dalam perfoma unggas” serta “immunosupresif sebagai faktor utama penyebab munculnya penyakit unggas”.

Prof. Charles yang menamatkan program doktornya di bidang Toksikologi lingkungan di Michigan State University, Amerika serikat menyadari bahwa peternakan ayam di Indonesia merupakan usaha peternakan yang paling berkembang. Namun, dalam beberapa akhir dekade ini terjadi perubahan iklim yang ekstrem berupa perubahan musim kemarau panjang, suhu tinggi atau pada suatu wilayah mengalami pola hujan yang tidak menentu. Hal tersebut dapat mempengaruhi ketersediaan produk pertanian sebagai bahan utama pakan ternak ayam seperti jagung, kedelai, gandum dal lain-lain. Selain itu, perubahan iklim yang tidak menentu juga menyebabkan penurunan kualitas dari bahan serta meningkatkan kemungkinan pencemaran mikotoksin.

Mikotoksin pada tanaman dan pakan unggas

Mikotoksin adalah suatu kelompok bahan kimia yang mempunyai struktur kimia bervariasi  dan bersifat toksik atau karsinogenik yang dihasilkan oleh spesies fungi tertentu sebagai metabolit sekunder dalam proses organiknya. Proses pembentukan mikotoksin belum diketahui secara pasti. Namun, mikotoksin dapat ditemukan pada tanaman yang mengalami level stres tinggi seperti kekurangan hara, kelebihan air atau akibat pengaruh kekeringan. “Pada umunya mikotoksin  diproduksi oleh fungi dan dapat terjadi di mana saja, namun lebih menonjol pada daerah beriklim panas atau sedang” ujar Prof. Charles dalam pemaparan ilmiahnya.

Fungi yang sering menginfeksi tanaman atau biji-bijian selama pertumbuhan di ladang, penyimpanan, transportasi dan proses pembuatan pakan antara lain Aspergillus sp., Fusarium sp., Penicillium sp., Alternaria sp., dan Claviceps sp. Prof. Charles menjelaskan bahwa setiap fungus dapat menghasilkan lebih dari satu jenis mikotoksin. Sebagai contoh, Aspergillus sp. yang dapat menghasilkan alfatoksin, okratoksin, patulin, asam siklopiazonat (pencemaran multi-mikotoksin) dan terjadi pada bahan baku pakan unggas. Mikotoksin dapat mengganggu pertumbuhan ayam dan terjadi penurunan produksi ayam. Dampak ekonomi langsung yang disebabkan oleh mikotoksin berupa peningkatan biaya produksi pakan serta biaya tambahan untuk mengeliminasi pertumbuhan fungi. Sedangkan dampak tidak langsung dari mikotoksin adalah berupa penanggunalan penyakit dari efeek imunosupresan yang dihasilkan oleh mikotoksin.

Solusi serangan mikotoksin

“Mengingat bahwa pada dosis rendahpun mikotoksin dapat menimbulkan penurunan perfoma unggas, dan bahan baku “bebas” mikotoksin sulit dicari, maka penanggunangan mikotoksikosis hendaklah dipadukan dengan pratek manajemen peternakan yang terbaik (best practice in farm management) untuk menekan dampak sekunder yang merugikan dari mikotoksin” papar Prof. Charles dalam mengakhiri orasi ilmiah dalam seminar tersebut. (Lulu/Mila)

 

Editor in ChiefVetNewsfkh,fkh ugm,mikotoksin,ugm,unggas
Setelah lebih dari 43 tahun mengamalkan tri dharma perguruan tinggi melalui penelitian, pengajaran dan pengabdian masyarakat, Prof. drh. Charles Rangga Tabbu, M. Sc., Ph. D. guru Besar Departemen Patologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM memasuki masa purna tugas pada bulan Juli 2018.  Prof. Charles dikenal sebagai ahli penyakit unggas yang berdedikasi...