Ilustrasi Kebun Binatang. Sumber gambar: wikipedia

Ditulis Oleh : drh. Rudal Jetta Bayusalaksa & drh. Istianah Maryam Jamilah

Review oleh : drh.  Irhamna Putri Rahmawati

Peran Kebun Binatang

Kurangnya lahan dan banyaknya kasus perdagangan hewan dilindungi di Indonesia, membuat kebun binatang menjadi salah satu tempat yang sesuai sebagai tempat konservasi ex-situ. Banyak satwa yang kehilangan habitat alaminya dikarenakan tingginya konversi lahan untuk pemukiman dan pertanian, sehingga mendesak satwa liar masuk ke pemukiman warga. Dalam beberapa kasus, masyarakat menyerahkan satwa liar yang dilindungi kepada kebun binatang maupun tempat konservasi ex-situ lainnya seperti pusat rehabilitasi untuk direlokasi ataupun untuk dikembangbiakkan.

Kebun binatang dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bekerjasama dalam memerangi perdagangan ilegal satwa liar dilindungi. Dalam sinergisme tersebut, Pihak BKSDA yang berwenang untuk penyitaan dan melakukan proses hukum yang sesuai, beberapa hewan hasil sitaan akan di rehabilitasi dan dilepas liarkan jika memungkinkan, dan akan dikonservasi ex-situ di kebun binatang dan tempat-tempat rehabilitasi yang ditunjuk jika kondisi hewan tidak bisa dilakukan pelepas liaran.

Kebun binatang pada era saat ini juga mendukung berkembangnya ilmu pengetahuan dan penelitian. Dalam dunia pendidikan, kebun binatang berperan sebagai sumber pembelajaran tentang ekosistem, keanekaragaman hayati serta konservasi satwa kepada generasi muda. Selain itu dengan banyaknya satwa yang dimiliki serta mudahnya akses, para peneliti dapat melakukan penelitian ataupun pengamatan dengan mudah dan efisien terhadap hewan-hewan yang ingin diamati. Penelitian eksplorasi spesifik yang bisa dilakukan antara lain penelitian mengenai tingkah laku (behavior), metode konservasi medis dan lain-lain sesuai dengan prinsip ilmiah dan animal welfare.

Isu Animal Welfare

Animal welfare atau kesejahteraan hewan menjadi kajian yang kompleks khususnya pada kebun binatang.  Meski kebun binatang memiliki peran yang penting dalam mendukung berkembangnya ilmu pengetahuan, penelitian dan sebagai sarana konservasi ex-situ, keberadaan kebun binatang  sangat rentan dihujani isu-isu miring mengenai animal welfare. Faktanya,  keadaan seperti kurangnya pengetahuan pekerja,  serta sarana dan prasarana yang kurang memadai menyebabkan masih sering menyebabkan hewan yang berada di kebun binatang tidak sejahtera.

Apakah animal welfare itu?

Definisi Animal welfare dijelaskan dalam UU No. 41 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Republik Indonesia pasal 1 angka 45, dimana kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik, mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia [1] . Broom (1991) mengemukakan bahwa istilah “kesejahteraan” mengacu pada keadaan individu yang berkaitan dengan lingkungannya dan hal ini bisa diukur [2]. Kegagalan untuk beradaptasi dengan lingkungan dan kesulitan dalam menghadapi perubahan tersebut adalah salah satu indikator kesejahteraan yang buruk.

Prinsip Animal welfare

Laporan Komite Brambel (Brambell Report) adalah penyelidikan ilmiah pertama yang dikembangkan sebagai Five Freedoms atau Lima Kebebasan [3]. Kelima kebebasan ini adalah pendekatan ilmiah yang paling diterima untuk kesejahteraan hewan dimana pendekatan ini menggunakan sebagian besar faktor yang dapat diukur secara eksternal untuk mengevaluasi kesejahteraan hewan dan menghindari antropomorfisme (atribusi karakteristik manusia ke makhluk bukan manusia termasuk hewan) [4]. Lima kebebasan ini kemudian didefinisikan secara mendalam oleh Dewan Kesejahteraan Hewan Ternak (Farm Animal Welfare Council) yaitu sebuah penasihat independen yang didirikan oleh Pemerintah Inggris pada tahun 1979 [5] .

Butir Five Freedoms Implementasi
Bebas dari rasa lapar dan haus adanya akses mudah ke air minum serta pakan untuk menjaga kesehatan penuh dan kebutuhan biologisnya
Bebas dari ketidaknyamanan adanya lingkungan yang sesuai termasuk tempat berteduh dan tempat peristirahatan yang nyaman
Bebas dari rasa sakit, luka atau penyakit adanya pencegahan, diagnosis serta pengobatan penyakit yang cepat dan tepat
Bebas untuk mengekspresikan perilaku normal adanya ruang yang cukup, fasilitas yang layak dan“teman” dari jenis hewan itu sendiri.
Bebas dari rasa takut dan tertekan memastikan kondisi dan perawatan yang terhindar dari penderitaan mental

Salah satu cara memastikan contoh kesejahteraan hewan yang baik adalah melihat bagaimana binatang tersebut hidup di alam bebas. Kebun binatang  harus berusaha  menjaga hewan mereka dengan cara yang menyerupai kehidupan spesies  tersebut di alam liar. Untuk itu kebun binatang diharapkan bisa memberikan enclosure atau tempat hewan tersebut tinggal dengan desain yang baik dan memenuhi kebutuhan alamiah sifat dan kebiasaan hewan tersebut di alam.

Pentingnya Animal Welfare Pada Kebun Binatang

Kesejahteraan hewan akan tetap menjadi area yang menantang hal ini dikarenakan meningkatnya tuntutan oleh berbagai kalangan mengenai animal welfare.  Animal welfare di kebun binatang adalah hal yang sangat penting mengingat pengamalan dari animal welfare akan berpengaruh langsung pada keberlangsungan program konservasi. Program konservasi dapat menjadi kacau ketika hewan dalam kondisi stres. Stres akan mengakibatkan sistem imun hewan turun, dan kesehatan reproduksi hewan terganggu karena penyakit akan mudah menyerang hewan yang stres.

Fungsi kebun binatang sebagai media penelitian dan pendidikan tidak akan berjalan dengan apabila penerapan animal welfare tidak dilaksanakan dengan baik, karena ketika hewan tidak diberikan kebebasan untuk mengekspresikan perilaku normalnya, tidak diberi minum dan pakan yang sesuai, tidak nyaman, serta merasa takut maupun tertekan maka hewan-hewan ini juga tidak menunjukkan kondisi fisiologis dan tingkah laku yang normal. Padahal, untuk menjalankan fungsi penelitian dan pendidikan hewan harus menunjukkan kondisi fisiologis dan mental yang normal untuk bisa dijadikan sumber informasi yang reliable.

Melihat pentingnya animal welfare pada kebun binatang dalam fungsi dan perannya dalam konservasi, penelitian dan pendidikan, penilaian terhadap animal welfare dan pengamalan prinsip-prinsip animal welfare sangat perlu diterapkan. Walaupun animal welfare merupakan sesuatu yang kompleks, bukan berarti perbaikan animal welfare pada kebun binatang adalah hal yang mustahil. Dengan usaha yang terus menerus dan progresif dari berbagai pihak seperti kebun binatang, para ahli, pemerintah serta sektor swasta perwujudan animal welfare dapat terlaksana. Mari berusaha bersama demi kesejahteraan hewan dan manusia, dengan langkah-langkah kecil dan usaha mari kita ciptakan lingkungan kebun binatang yang bisa menjalankan peran konservasi, penelitian dan pendidikan dengan sebenarnya bukan hanya meraup keuntungan semata.

 

Referensi

  1. UU No. 41 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan
  2. Broom, DM. 1991. Animal welfare: concepts and measurement. J Anim Sci. 69(10):4167-75.
  3. Brambell Report. 1965. Report of the Technical Committee to enquire into the welfare of animalskept underintensive livestock husbandry systems. London: Her Majesty’s Stationery Office.
  4. Webster, J., 1994. Animal welfare – A cool eye towards eden. Oxford: Blackwell Science.
  5. Farm Animal welfare 2004. The five freedoms. Available at:http://www.favc.org.uk/index:htm.

 

*drh. R. Jetta Bayusalaksa merupakan dokter hewan di GembiraLoka Zoo Yogyakarta

 

Editor in ChiefVetTalk\,Animal Welfare,Wild Animal,zoo
Ditulis Oleh : drh. Rudal Jetta Bayusalaksa & drh. Istianah Maryam Jamilah Review oleh : drh.  Irhamna Putri Rahmawati Peran Kebun Binatang Kurangnya lahan dan banyaknya kasus perdagangan hewan dilindungi di Indonesia, membuat kebun binatang menjadi salah satu tempat yang sesuai sebagai tempat konservasi ex-situ. Banyak satwa yang kehilangan habitat alaminya dikarenakan...