Oleh: drh. Lu’lu Sahara Wusahaningtyas

Pemotongan hewan kurban biasanya dilakukan di luar Rumah  Potong Hewan (RPH) dikarena jumlah hewan yang akan di potong banyak serta dilakukan berbagai masjid atau dusun di Indonesia. Menurut Pasal 61 ayat (1) Undang-undang tahun 18 tahun 2009 tentang Peternakaan dan Kesehatan Hewan menjelaskan bahwa pemotongan hewan yang dagingnya diedarkan harus dilakukan di RPH. Namun, pemotongan hewan juga dapat dilakukan diluar rumah potong hewan apabila untuk kepentingan hari besar keagamaan, upacara adat, dan pemotongan darurat seperti yang dijelaskan pada pasal 61 ayat 4 [1].

Karena pemotongan dilakukan diluar RPH pemeriksaan daging dan jeroan hewan yang sudah dipotong harus dilakukan dengan baik untuk mencegah adanya penularan penyakit dari hewan ke manusia. Pemeriksaan karkas atau organ jeroan setelah pemotongan sangat perlu dilakukan agar terciptanya daging yang ASUH (Aman, Utuh, Sehat dan Halal) [2,3].

Lalu bagaimana cara bagaimana memeriksa dan apa yang harus dilakukan jika menemukan perubahan di daging atau jeroan hewan kurban?

1. Buang daging di bagian pipi jika menemukan benjolan seperti biji mentimun.

 Lakukan penyayatan pada bagian pipi (otot maseter), apabila terlihat cystisercus seperti biji mentimun maka bagian tersebut harus diafkir atau dihilangkan

2. Buang bagian lidah yang terdapat luka (ulser)

Pemeriksaan bagian kepala dilanjutkan dengan pengeluaran lidah dengan me

matahkan tulang lidah, apabila terdapat luka (ulser) maka bagian tersebut disayat atau dibuang [2,4]). Lidah yang luka bisa jadi merupakan tanda bahwa sapi mengidap Actinobacillosis adan BVD (Gambar 1)

Gambar 1. Ulser atau luka pada lidah sapi yang sakit. Sumber: Dirjen PKH, 2017 [5]

3. Buang paru jika terjadi pembengkakan, konsistensi padat/keras, ditemukan nanah dan ditemukan benjolan berisi cacing.

Paru paru yang normal memiliki warna merah muda, konsistensi kenyal, permukaan licin serta mengkilap dan lembab. Apabila disayat permukaan sayatan berwarna putih, dan akan terapung pada uji apung, jika tenggelam berarti paru-paru dalam kondisi tidak normal. Perubahan warna paru dapat disebabkan oleh pembengkakan, dan beberapa penyakit seperti  pneumonia ringan akan ditunjukan dengan pembengkaan paru-paru, bagian tersebut harus dibuang atau diafkir. Sedangkan pneumonia yang berat akan menunjukan pembesaran paru-paru, konsistensi padat, perubahan warna menjadi merah gelap dan disayat akan mengeluarkan cairan nanah maka paru-paru harus dibuang atau afkir. Pengafkiran paru-paru juga dilakukan apabila terdapat bongkol nanah (abses), atau benjolan tumor/ TBC serta benjolan sarang cacing [2,6].

4. Buang Jantung Jika Menemukan Benjolan Seperti Biji Mentimun atau Keradangan pada Pembungkus Jantung

Pemeriksaan jantung dilakukan seperti dengan pemeriksaan organ lain yaitu di awali dengan inspeksi ada perubahan warna pada bagian pembungkus jantung. Jantung yang sehat akan terlihat mengkilap dan ujung jantung lancip (Gambar 2). Pemeriksaan di lanjutkan dengan pembelahan jantung untuk melihat serambi dan bilik. Apabila terdapat cysticercus seperti biji mentimun atau radang pada bagian pembungkus jantung maka bagian tersebut harus di afkir [2,5]).

Gambar 2. Jantung Normal memiliki ujung yang lancip dan tidak terjadi keradangan pada pembungkusnya. Sumber: Dirjen PKH, 2017 [5].

5. Buang Hati Jika Hati Mengeras dan Ditemukan Cacing di Semua Bagian

Gambar 3. Hati yang terinfeksi oleh Fasciolla, terdapat potongan cacing pada hati, Dirjen PKH, 2017 [5]

Pemeriksaan hati dapat dilakukan dengan cara dilihat dan diraba serta hati dipotong secara melintang. Hati yang normal akan berwarna merah agak gelap secara merata dengan kantong empedu yang relatif kecil. Konsistensi kenyal dengan tepi-tepi yang cenderung tajam. Kelainan yang sering ditemui adalah adanya cacing hati (Fasciola hepatica atau Fasciola gigantica  pada sapi). Hal ini dapat di tandai dengan hati berwarna kuning-putih, terdapat penebalan kapur pada saluran empedu, konsistensi keras, berlendir dan terkadang pada kasus infeksi fasiola berat semua bagian hati terdapat cacing maka bagian hati tersebut lebih baik di afkir atau di hilangkan [5].

6. Buang Limpa yang Bengkak, Terdapat Benjolan Abu Kekuningan, atau Berwarna Hitam/Kuning.

Limpa yang normal berwarna biru keabuan, bentuk oval memanjang dan gepeng, serta memiliki konsistensi keras bila diraba dan tepi tajam. Waspadai apabila ukuran limpa membengkak, terdapat benjol-benjol abu kekuningan menunjukkan gejala TBC, warna limpa menjadi kuning (Malleus), atau warna limpa menjadi hitam seperti tir (Anthrax) maka limpa tersebut harus di afkir [2]

7. Buang Usus dan Lambung yang Mengalami Perdarahan Mukosa dan Terdapat Cacing

Pemeriksaan dapat dilakukan dengan penyayatan bagian usus dan lambung dan inspeksi bagian mukosa atau permukaan usus dan lambung terdapat perdaraan mukosa usus dan infestasi cacing. Apabila terlihat adanya perubahan tersebut maka lebih baik bagian usus dan lambung diafkir [2].

8. Buang Daging Yang Berbau Busuk

Daging merupakan bagian–bagian hewan yang disembelih serta lazim dan layak dimakan manusia [7].  Penurunan kualitas daging dapat di tandai dengan perubahan warna, rasa maupun aroma. Daging yang normal dan layak untuk dikonsumsi memiliki kriteria sebagai berikut :

  1. Konsistensi daging yang sehat akna terasa kenyal apabila di tekan dengan jari. Namun keempukkan daging ditentukan oleh kandungan jaringan ikat. Semakin tua usia hewan mempunyai jaringan ikat semakin banyak dan daging yang dihasilkan semakin liat.
  2. Warna daging yang normal tergantung oleh variasi dan jenis hewan secara genetik serta usia, seperti daging sapi potong akan lebih gelap daripada daging sapi perah, daging sapi muda akan lebih pucat daripada daging sapi dewasa. Sedangkan warna daging yang baru diiris memiliki warna merah ungu gelap dan akan berubah menjadi terang apabila terkena udara serta akan berubah menjadi cokelat bila dibiarkan terlalu lama diudara.
  3. Daging memiliki aroma yang khas sesuai dengan bau hewan. Apabila memiliki aroma busuk maka daging lebih baik diafkir [6,8,9]

 

Daftar Pustaka

[1] UU No. tahun 18 tahun 2009 tentang Peternakaan dan Kesehatan Hewan, Pasal 61 ayat 1 dan 4.

[2] Budiharta, S. 2004. Penyembelihan, Pemeriksaan Pramerta, dan Pemeriksaan Pascamerta pada Ternak Potong. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

[3] Sanjaya, A.W; Sudarwanto, M; Soejoedono, R.R; Purnawarman, T; Lukman, D.W; Latif, H. 2007. Higiene Pangan. IPB Press, Bogor.

[4] Darmawi dan Balqis, U. 2017. Penyuluhan Tentang Pemeriksaan Kesehatan Hewan Kurban Di Desa Ateuk Pahlawan Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Staff Dosen Fakultas Kedokteran Hewan Unsiyah.

[5] Dirjen PKH. 2017. Pemutusan Mata Rantai Penularan Zoonosis dari Hewan ke Manusia: Pemeriksaan Ante-Post Mortem. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI.

[6] Pratiwi. 2017. PRINSIP PEMERIKSAAN  PEMOTONGAN TERNAK. Di akses di http://pratiwi.lecture.ub.ac.id/files/2012/06/TEKS-OK-3.pdf pada tanggal 24 Juli 2017.

[7] Badan Standarisasi Nasional. 1999. Standar Nasional Indonesia tentang Rumah Pemotongan Hewan  (SNI 01-6159-1999). Badan Standarisasi Nasional. Jakarta.

[8] Afiati, F. 2009. Pilih-pilih Daging Asuh. BioTrends/Vol.4/No.1/Tahun 2009.

[9] Susanto, E. 2014. STANDAR PENANGANAN PASCA PANEN DAGING SEGAR.  Jurnal  Ternak, Vol.05, No.01, Juni 2014; ISSN 2086 – 5201.

https://vetindonesia.com/wp-content/uploads/2017/08/Hati-Fasciola.pnghttps://vetindonesia.com/wp-content/uploads/2017/08/Hati-Fasciola-300x300.pngEditor in ChiefVetHealthabnormalitas,kesmavet,kurban,organ dalam,potong,qurban,Sapi
Oleh: drh. Lu’lu Sahara Wusahaningtyas Pemotongan hewan kurban biasanya dilakukan di luar Rumah  Potong Hewan (RPH) dikarena jumlah hewan yang akan di potong banyak serta dilakukan berbagai masjid atau dusun di Indonesia. Menurut Pasal 61 ayat (1) Undang-undang tahun 18 tahun 2009 tentang Peternakaan dan Kesehatan Hewan menjelaskan bahwa pemotongan...