Oleh: drh. Ghoniyyun An-Nafi’

Perayaan Hari Raya Idul Adha merupakan momen bagi semua kalangan untuk mengonsumsi protein hewani lebih banyak dari biasanya. Termasuk di Indonesia, merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat kurang mampu yang pada umumnya jarang mengonsumsi daging. Daging kurban yang diperoleh diolah menjadi beragam jenis masakan. Selain  daging, organ-organ seperti hati, ginjal, jantung, paru, otak, dan organ lainnya juga kerap dijadikan menu menggugah selera. Sayangnya terkadang masyarakat belum dapat membedakan antara bahan pangan asal hewan yang sehat dengan yang sebaiknya tidak dikonsumsi. Hal ini menjadi penting karena fakta tersebut merupakan salah satu faktor penyebab angka zoonosis (penularan penyakit dari hewan ke manusia atau sebaliknya) cukup tinggi.

Dalam ilmu kesejahteraan masyarakat veteriner (kesmavet) dikenal pemeriksaan post mortem, yaitu pemeriksaan yang dilakukan setelah penyembelihan hewan. Pemeriksaan dilakukan dokter hewan atau pemeriksa daging di bawah pengawasan petugas berwenang. Hasil pemeriksaan post mortem merujuk pada pemeriksaan ante mortem yaitu pemeriksaan yang telah dilakukan sebelum penyembelihan. Pemeriksaan post mortem meliputi pemeriksaan pada daging beserta organ-organ dalam pada hewan segera setelah hewan mati pasca disembelih. Dalam Soedarto (2003) berikut cara mengenali serta memeriksa daging dan beberapa organ pasca penyembelihan [1]:

  1. Daging (otot): Karkas yang sehat nampak merah segar, lembab, dan tidak berlendir. Bentuk-bentuk kelainan yang sering dijumpai adalah bercak-bercak pendarahan, lebam-lebam dan berair.

Daging yang sehat tidak berair. Sumber gambar: http://handons.com/

  1. Paru-paru : Paru-paru yang sehat berwarna merah muda, tepi tajam, terapung di air, jika diremas terasa gelembung udara, dan tidak keluar nanah setelah disayat. Jika ditemukan benjolan kecil-kecil berwarna putih, patut diwaspadai bahwa hewan ternak tersebut terinfeksi bakteri penyebab TBC.

    Paru paru sapi. Sumber gambar: http://www.fidelismeats.com.sg

  2. Ginjal : Dari luar nampak mulus, tekstur kenyal, ukuran keduanya simetris, tidak ditemukan cacing setelah dibuka rongganya. Sedangkan ginjal yang abnormal akan terlihat bengkak, ada perdarahan, dan warna pucat.

    Ginjal Sapi. Sumber gambar: http://www.traditional-beef.co.uk/

  3. Lambung dan usus : Pada saluran pencernaan yang sehat, tidak ditemukan cacing maupun bekas infeksi cacing. Lekukan bagian dalamnya teratur, tidak ada perdarahan atau penebalan pada dinding. Untuk memastikan lambung dan usus dalam kedaan normal, lambung dan usus harus dibelah hingga terlihat seluruh bagian dinding, isinya dibersihkan, kemudian diinspeksi (diamati), selanjutnya dipalpasi (diraba).

    Lambung sapi. Sumber gambar: http://www.squicity.it/

  4. Limpa : Limpa normal berukuran lebih kecil daripada hati, berwarna merah keunguan, dan tepi lancip. Pada penderita antrax, limpa membengkak hebat, tepi tumpul, berwarna kehitaman, dan terkadang rapuh.

    Limpa domba. Sumber gambar: https://sc01.alicdn.com

  5. Hati (liver): Tekstur kenyal, berwarna merah trengguli, tepi lancip, dan dibungkus selaput bening.https://cdn2.curejoy.com/content/wp-content/uploads/2016/12/Beef-Liver.jpg

    Hati Sapi. Sumber gambar: https://cdn2.curejoy.com

Kasus yang paling sering terjadi pada hewan kurban ialah infeksi cacing hati, dalam dunia veteriner sering disebut Fascioliasis. Secara fisik, sapi atau ternak yang terkena cacing hati tidak ada perbedaan dengan ternak yang kondisinya sehat. Dengan kata lain, penyakit Fasciolosis pada ternak ini cukup sulit dideteksi oleh masyarakat awam, dan baru dapat diketahui setelah ternak disembelih dan hatinya dibelah. Oleh karena itu, dibutuhkan pemeriksaan kesehatan oleh dokter hewan setempat guna memastikan apakah daging kurban yang akan dikonsumsi sudah memenuhi kriteria ASUH atau tidak [2]. Sebagian besar kasus Fasciolosis di Indonesia disebabkan oleh cacing Fasciola gigantica. Cacing ini dapat hidup di semua lobus hati terutama saluran empedu. Hati yang yang sudah lama terinfeksi menunjukkan ciri-ciri warna menguning, tekstur keras akibat kalsifikasi, dan morfologi (bentuk) cacing terlihat setelah hati disayat. Jika menginfeksi manusia, dapat menyebabkan hepatalgia (nyeri pada hati), demam, dan penurunan berat badan [3].

Pemeriksaan post mortem yang ideal adalah pemeriksaan yang dilakukan pada seluruh bagian tubuh hewan tanpa terkecuali, didukung dengan hasil laboratoris serta peralatan yang memadai. Hasil pemeriksaan didokumentasikan sebagai bentuk recording terutama jika ada temuan kelainan yang mencurigakan [4]. Pada pemeriksaan ini pula diputuskan apakah karkas, kepala, dan jeroan dapat dikonsumsi atau tidak [5]. Setelah pemeriksaan post-mortem, seluruh bagian disimpan atau dikemas di tempat yang bersih guna menjamin produk hewan yang ASUH (aman, sehat, utuh, halal) sampai di tangan konsumen.

Referensi :

[1] Soedarto. 2003.  Zoonosisi Kedokteran. Airlangga press. Surabaya.

[2] Dewi, A. 2016. (Online) (http://www.dokter-hewan.net/2016/09/senin-waspada-cacing-hati-pada-hewan.html, diakses 25 Juli 2017)

[3] Chen, J. X., Chen, M. X., et al. 2013.  An Outbreak of Human Fascioliasis gigantica in . Southwest China. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0071520

[4] Anonim. 2017. A visual guide to a ruminant animal post-mortem. Animal Health Laboratories (AHL), Department of Agriculture and Food, Australia.

[5] Darmawi, U. B. 2007. Penyuluhan Tentang Pemeriksaan Kesehatan Hewan Kurban di Desa Ateuk Pahlawan Kecamatan Baiturrahman Banda Aceh. Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syahkuala, Aceh.

Editor in ChiefVetHealthabnormalitas,jeroan,kurban,nomal,normal,qurban,sehat
Oleh: drh. Ghoniyyun An-Nafi’ Perayaan Hari Raya Idul Adha merupakan momen bagi semua kalangan untuk mengonsumsi protein hewani lebih banyak dari biasanya. Termasuk di Indonesia, merupakan berkah tersendiri bagi masyarakat kurang mampu yang pada umumnya jarang mengonsumsi daging. Daging kurban yang diperoleh diolah menjadi beragam jenis masakan. Selain  daging, organ-organ...