Oleh: drh. Rizan Kusfahrudin

Industri perunggasan di Indonesia saat ini memegang peranan penting karena mampu menghasilkan swasembada daging maupun telur. Usaha perunggasan ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan dan kecerdasan masyarakat. produk unggas berupa daging ayam dan telur merupakan sumber protein yang berkualitas dengan harga terjangkau. Saat ini, 65% daging yang dikonsumsi masyarakat Indonesia berasal dari daging ayam. Upaya untuk terus memberikan kualitas yang terbaik harus selalu diikuti dengan manajemen kesehatan dari unggas itu sendiri, salah satunya yaitu dengan program vaksinasi yang berguna mencegah adanya agen infeksius yang mampu menimbulkan penyakit, diharapkan dengan adanya vaksinasi pada unggas mampu menunjang hasil yang maksimal dari produksi unggas.

 Apa itu vaksinasi?

Vaksinasi adalah pemberian vaksin (antigen) yang merupakan agen suatu penyakit tertentu sehingga terbentuk tanggap kebal yang dapat mencegah infeksi terhadap agen penyakit tersebut. Vaksin virus dapat dibedakan menjadi dua, yaitu vaksin aktif (hidup) yang mengandung partikel virus hidup tapi sudah dilemahkan sehingga tidak virulen, dan vaksin inaktif (killed vaccine) yaitu vaksin dengan kandungan partikel virus yang sudah dimatikan atau diinaktivasi tetapi tidak kehilangan imunogenitasnya [1]. Imunogenitas pada vaksin dapat ditingkatkan dengan penambahan adjuvant. Adjuvant merupakan bahan yang dicampurkan ke dalam vaksin untuk meningkatkan respon imun, baik humoral maupun seluler. Mekanisme kerja dari adjuvant meliputi retensi antigen yang lebih lama dan pelepasannya lambat. Adjuvant yang paling umum digunakan untuk vaksin hewan adalah minyak mineral [2]. Vaksin inaktif dengan penambahan adjuvant dapat meningkatkan  potensi sistem imun serta menambah lamanya perlindungan terhadap suatu infeksi penyakit pada hewan dan manusia [3].

Pentingnya vaksinasi

Vaksinasi sangat penting meningkatan kekebalan tubuh dari unggas itu sendiri, karena penyebaran penyakit infeksius yang berbahaya dan cepat dalam penyebarannya. Tizard (2009) melaporkan bahwa pemberian antigen ( dengan cara vaksinasi) menyebabkan tubuh hewan akan menjalankan respon kekebalan selular dan humoral, sehingga mampu terbentuknya antibodi pada unggas yang divaksin. Antibodi adalah elemen pertama dari sistem kekebalan tubuh untuk diidentifikasi berupa protein antigen-reaktif dalam serum kekebalan tubuh, yang disebut antiserum, dan diperoleh setelah pemaparan dari vertebrata inang terhadap antigen tertentu, disebut imunogen [4].

Respon imun yang terbentuk pada unggas dipicu oleh masuknya antigen ke dalam tubuh dan dihadapi oleh sel makrofag yang selanjutnya akan berperan sebagai antigen presenting cell (APC). Sel ini akan menangkap sejumlah kecil antigen dan diekspresikan ke permukaan sel yang dapat dikenali oleh sel limfosit T penolong (Th atau T helper). Sel Th ini akan teraktivasi dan (selanjutnya sel Th ini) akan mengaktivasi limfosit lain seperti sel limfosit B atau sel limfosit T sitotoksik. Sel T sitotoksik ini kemudian berpoliferasi dan mempunyai fungsi efektor untuk mengeliminasi antigen. Setiap prosesi ini sel limfosit dan sel APC bekerja sama melalui kontak langsung atau melalui sekresi sitokin regulator [5]. Sedangkan sel limfosit B akan membesar dan membagi diri berulang kali menjadi dua populasi yaitu sel plasma dan sel memori yang mampu menghasilkan antibodi [1]. Interaksi APC dan sel T ini akan menginduksi limfosit B menjadi sel plasma  yang menghasilkan antibodi spesifik [6]. Antibodi bertiter tinggi dapat terbentuk di dalam serum hewan melalui vaksinasi berulang [2].

Cara-cara vaksinasi pada ayam

  1. Vaksinasi melalui suntik (injeksi)

Vaksinasi dengan cara injeksi intramuskuler di bagian otot dada. Sumber foto: istimewa/vetIndonesia

Vaksinasi menggunakan suntik biasanya menggunakan injector, dan memerlukan waktu yang lumayan lama jika jumlah populasi unggasnya banyak. Sebelum dilakukan injeksi biasanya injector diuji coba dulu apakah rusak atau tidak, jika rusak harus segera diganti dengan injector lain, dan apabila kotor bisa dibersihkan menggunakan air panas. Vaksin yang keluar dari refrigerator sebaiknya ditunggu beberapa saat sampai suhunya mendekati suhu lingkungan. Sebelum ataupun saat melakukan kegiatan vaksinasi sebaiknya botol vaksin dikocok untuk menghindari pengendapan komponen dari vaksin.

  1. Vaksinasi Tetes

Macam-macam vaksin menggunakan tetes yaitu vaksin tetes mata, tetes mulut, dan tetes hidung. Sangat harus diperhatikan oleh vaksinator yaitu proses penetasan ke dalam mata, mulut, atau hidung haruslah tepat dan vaksin harus terserap sempurna. Jangan dilakuan dengan terburu-buru karena bisa membuat tidak maksimal dalam program vaksinasi. Supaya lebih efektif biasanya larutan vaksin dibagi ke dalam beberapa alat vaksinasi dan bisa digunakan oleh bebrapa vaksinator.

  1. Vaksinasi melalui Air Minum

Vaksinasi melalui air minum. Sumber gambar: Cobb-Vantress Vaccination Procedure Guide. http://cobb-vantress.com/

Vaksinasi melalui air minum sangat efisien. Ayam dipuaskan 1-2 jam sebelum vaksinasi. Jika suhu lebih dari 300c sebaiknya 1 jam saja Disiapkan air minum, skim, dan vaksin dalam jumlah yang tepat. Jumlah air yang dibutuhkan adalah sejumlah air yang dihabiskan minum ayam selama 1-2 jam.

  1. Vaksinasi melalui Spray

Vaksinasi dengan metode spray. Sumber gambar: Cobb-Vantress Vaccination Procedure Guide http://cobb-vantress.com/

Vaksinasi menggunakan spray biasanya dilakukan pada DOC yang baru datang, dilakukan dengan menggunakan alat sprayer yang sudah ada tempat isi ulang vaksin dan menghasilkan butiran-butian cairan vaksindengan ukuran tertentu seperti fine spray (5-20 mikron) atau coarse spray (50 mikron), dengan vaksinasi ini bisa diharapkan mampu lebih efisien untuk banyak DOC yang akan divaksin dan juga terserap melalui pernafasan. Vaksinasi dengan cara ini biasanya pencegahan penyakit ND/IB pada ayam.

 

Contoh Jadwal Vaksinasi pada Ayam

  • Jadwal vaksinasi pada ayam layer di PT. Jatinom Indah Farm Blitar

 

Referensi

 

[1] Tizard, I.R. 2009. Veterinary Immunology : An Introduction (Eight Edition). Departement of Veterinary Pathobiology. Texas. Viruses: a WHO Memorandum. Bull

[2] Fenner F.J., E.P.J. Gibbs, F.A. Murphy, R. Rott, M.J. Studdert, D.O. White. 1995.  Veterinary Virology. Terjemahan Putra, Harya dan K. G. Suryana. Semarang: IKIP Semarang Press.

[3] Rajput, Z. Iqbal, S. Hu, C. Xiao, dan A.G. Arijo. 2007. Adjuvant Effects Of Saponins On Animal Immune Responses.  Journal of Zhejiang University Science B.8(3):153-161.

[4] Zouali, M. 2001. Antibodies. [artikel]. Encyclopedia of Life Sciences.

Royal poultry.co. Cara Vaksinasi pada ayam broiler.

[5] Munasir, Z. 2001. Respon Imun Terhadap Infeksi Bakteri. Sari Pediatri, Vol. 2, No. 4, Maret 2001: 193 – 197.

[6] Wibawan, I.W.T., D.S Retno, S.D. Chandramaya, B.T. Tiok. 2003.  Diktat Imunologi.Lab. Imunologi Dept. Kesmavet FKH IPB.

Editor in ChiefVetHealthPoultry
Oleh: drh. Rizan Kusfahrudin Industri perunggasan di Indonesia saat ini memegang peranan penting karena mampu menghasilkan swasembada daging maupun telur. Usaha perunggasan ikut berperan dalam meningkatkan kesehatan dan kecerdasan masyarakat. produk unggas berupa daging ayam dan telur merupakan sumber protein yang berkualitas dengan harga terjangkau. Saat ini, 65% daging yang...