sumber: wikihow

Oleh: drh. Fitri Suji D. H

Peningkatan kebutuhan daging sapi secara nasional dari waktu ke waktu makin bertambah. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah meningkatkan penyediaan bibit sapi untuk selanjutnya dapat digemukkan dan dipotong untuk memenuhi permintaan konsumen. Peningkatan penyediaan bibit sapi dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi reproduksi ternak salah satunya dengan menggunakan hormon untuk meningkatkan reproduksi ternak, sementara usaha untuk meningkatkan berat badan sapi sehingga mencapai target pasar adalah menggunakan Hormone Growth Promotant (HGP) [1,5]. Penggunaan hormon baik untuk meningkatkan reproduksi ternak ataupun mencapai berat badan ideal merupakan hal yang lumrah pada usaha peternakan sapi selama penggunaanya dibawah supervisi dokter hewan yang berwenang.

Apa itu hormon?

Hormon adalah derivat protein/peptid, lemak atau atau asam amino yang setelah disekresikan akan bertindak pada reseptor untuk menimbulkan reaksi pada masing-masing sel reseptif. Hormon secara alami diproduksi oleh manusia dan hewan, menyebabkan perubahan morfologi, tingkah laku, fisiologi, dan biokemis[6].

Penggunaan hormon untuk peningkatan reproduksi ternak

Peningkatan reproduksi ternak dapat dilakukan dengan menggunakan hormon, salah satunya untuk sinkronisasi estrus. Sinkronisasi estrus merupakan usaha menyamakan atau menyerentakkan estrus ternak sehingga dapat dikawinkan atau diinseminasi pada waktu yang bersamaan sehingga menghasilkan kebuntingan dan kelahiran yang dapat meningkatkan efisiensi reproduksi ternak sapi[8].

Hormon yang digunakan antara lain adalah prostaglandin-F2α (PGF2α). Fungsi PGF2α adalah meregresi korpus luteum sehingga pemberiannya efektif jika dilakukan pada fase luteal di saat korpus luteum telah berfungsi. Selain PGF2α juga dapat menggunakan Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH). Hormon ini dapat digunakan pada penanganan kasus cyctic follicles dan delayed ovulation [2]. Role of Estrogen 17β (E2). Hormon ini berperan penting dalam menunjukkan gejala estrus pada sapi dan juga membantu inisiasi LH surge yang penting untuk deteksi estrus pada sapi[2].

Kombinasi PGF dan GnRH. Injeksi GnRH dan PGF dalam interval 7 hari dari hari pertama injeksi GnRH ke PGF diikuti 30-36 jam kemudian GnRH kedua dan waktu inseminasi buatan 16-20 jam setelahnya. GnRH pada injeksi pertama digunakan untuk program pertumbuhan folikel pada siklus betina dan untuk induksi ovulasi pada betina anestrus. Sementara PGF2α pada hari ke-8 menginduksi regresi korpus luteum yang ada untuk menurunkan progesteron. Selanjutnya GnRH kedua diberikan pada hari ke-10 sampai 11 menginduksi ovulasi folikel dominan yang telah diprogram oleh injeksi GnRH pertama[2,3].

Penggunaan hormon untuk penggemukan

 Hormone Growth Promotant (HGP) merupakan hormon pemacu pertumbuhan, ternak yang diimplan dengan HGP tumbuh lebih cepat daripada hewan yang tidak diimplan HGP. Kandungan yang terdapat di HGP yang biasa digunakan di Australia antara lain :

  1. Estrogen (estradiol-17β, estradiol benzoat)
  2. Zeranol, hormon sintesis non steroid termasuk dalam kelas yang diketahui sebagai b-resorcylic lactones
  3. Testosteron (testosteron propionat)
  4. Trenbolon acetat (TBA), androgen sintetis
  5. Progesterone[5]

Hormon dari HGP dilepaskan ke dalam jaringan ternak dari pellet yang diimplan di bawah kulit telinga ternak. Terdapat dua tipe pellet yaitu kompres atau karet silikon. Tipe yang banyak digunakan adalah tipe kompres yang dibuat dengan cara yang sama dengan obat tablet dengan cara memampatkan/memadatkan bahan-bahan (hormon) dengan carrier matrix. Hormon  yang dilepaskan sebagai carrier matrix larut ketika bertemu dengan cairan tubuh. Kolesterol secara umum digunakan sebagai matrix di HGP. Aksi anabolik dari HGP menyebabkan lebih banyak energi yang dapat dimetabolisme untuk membentuk protein daripada simpanan lemak. Pellet kompres HGP dapat berfungsi hingga antara 60-120 hari, lebih dari 140 hari stimulasi aktivitas anabolik tidak terjadi. Ternak sebaiknya tidak mendapat implan kedua dalam waktu 70 hari setelah implan pertama. Konsentrasi hormon di serum atau plasma darah ternak yang diimplan akan mencapai puncak pada 1-3 hari pertama, diikuti penurunan secara bertahap[5].

Pemenuhan kebutuhan pangan asal hewan berupa daging sapi saat ini masih bergantung pada importasi sapi dari Australia. Penggunaan TBA di Australia dianggap legal sehingga dikhawatirkan terdapat residu TBA pada sapi siap potong yang dikirim ke Indonesia. Menurut Standar Codex untuk obat hewan atau hormon mengacu pada persyaratan maximum residue limit (MRL) dan atau acceptable daily intake (ADI). Standar Codex menetapkan bahwa MRL trenbolone acetat (TBA) pada otot sapi maksimal adalah 2 µg/kg dan pada hati maksimal 10µg/kg. Efek samping dari residu TBA dalam konsentrasi tinggi ( di atas 4 ppb) antara lain peningkatan sel kanker, penurunan fertilitas, reaksi hipersensitif, gangguan fungsi hati, serta atrofi hati [4, 7].

Contoh preparat hormon PGF 2-alfa yang sering digunakan untuk menangani permasalahan reproduksi pada hewan. Sumber: http://www.atozvetsupply.com

Selain digunakan untuk peningkatan reproduksi ternak dan penggemukan sapi, hormon juga dapat digunakan untuk treatment kasus-kasus tertentu seperti,

  1. Hormon PMSG bekerja seperti Folicle Stimulating Hormone (FSH) dapat digunakan sebagai perangsang estrus pada sapi dan meningkatkan fertilitas post terapi progesteron pada kambing/domba[9].
  2. Human Chorionic Homone (HCG) memiliki fungsi memperbaiki conception rate pada sapi betina, nymphomania, cyctic ovari yang disertai siklus estrus irreguler[9].
  3. Dinoprost tromethamine (PGF2α) dapat digunakan untuk terapi metritis dan piometra pada kambing/domba dan sinkronisasi estrus pada sapi[10]
  4. Cloprostenol (analog prostaglandin sintesis) dapat digunakan pada terapi kasus subestrus, kronik endometritis dan ovarian luteal cysts [11].

Sumber

[1] Saili, T., Bain, A., Aku, A.S., Rusdin, M., Aka, R. 2011. Sinkronisasi Estrus Melalui Manipulasi Hormon Agen Luteolitik Untuk Meningkatkan Efisiensi Reproduksi Sapi Bali dan PO di Sulawesi Tenggara. Agriplus, Volume 21 Nomor : 01 Januari 2011.

[2] Paul, A.K., Yoisungnem, T., dan Bunaparte, N. 2015. Hormonal treatment and estrus synchronization in cows : A mini-review. J. Adv. Vet. Anim. Res. 2(1) : 10-17.

[3] Islam, R. 2011. Synchronization of Estrus in Cattle : A Review. Veterinanry Wprld, 2011, Vol. 4(3) : 136-141. Srinagar.

[4] Codex Alimentarius. 2015. Maximum Residue Limits (MRLs) and Risk Management Recommendations (RMRs) for Residues of Veterinary Drugs in Foods. www.codexalimentarius.org

[5] Meat and Livestock Australia. 2010. Using hormone growth promotants to increase beef production. Edit by Ian Partridge.

[6] Wuttke, W., Jarry, H., Wuttke, D.S. 2010. Definition, classification and mechanism of action of endocrine disrupting chemicals. Hormones 2010, 9(1):9-15. Goettingan.

[7] Danial, R., Latif, H., Indrawati, A. 2015. Deteksi Residu Hormon Trenbolon Asetat pada Sapi Siap Potong Impor asal Australia. ACTA VETERINA INDONESIA Vol. 3, No. 2:70-76. Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Bogor.

[8] Sariubang, M., dan Nurhayu,A. 2011. Respon Penyuntikan Hormon Capriglandin PGF2α terhadap Sinkronisasi Berahi Induk Sapi Bali di Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan. Seminar Nasional teknologi Peternakan dan Veteriner 2011. Sulawesi Selatan.

[9] SHS International. Folligon. www.shs.co.id

[10] Caprifarmindo Veterinary. Capriglandin. www.vet.caprifarmindo.com

[11] MSD Animal Health. Estrumate. www.msd-animal-health.co.nz

 

Editor in ChiefVetHealthcattle,hormone,Livestock
Oleh: drh. Fitri Suji D. H Peningkatan kebutuhan daging sapi secara nasional dari waktu ke waktu makin bertambah. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah meningkatkan penyediaan bibit sapi untuk selanjutnya dapat digemukkan dan dipotong untuk memenuhi permintaan konsumen. Peningkatan penyediaan bibit sapi dapat dilakukan dengan peningkatan efisiensi reproduksi...