Ayam Broiler. Sumber gambar : http://alq.org.au

Oleh: drh. Dini A. Paramanandi

“Jangan terlalu banyak makan daging ayam broiler,karena ayamnya disuntik hormon supaya bisa cepat gemuk”. Pernyataan semacam itu masih menjadi isu hangat yang dibicarakan di masyarakat. Presepsi yang muncul dikarenakan beberapa orang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi daging ayam akhirnya membentuk presepsi yang salah. Apakah daging ayam mengandung zat berbahaya untuk manusia?

Daging ayam adalah salah satu sumber protein hewani yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari. Permintaan masyarakat yang semakin tinggi, menuntut produsen daging ayam menyediakan sediaan daging ayam yang tinggi pula. Apakah peternak menggunakan obat tertentu untuk memicu ayam menjadi cepat gemuk?

Ayam pedaging (broiler) adalah ayam yang telah mengalami selective breeding sehingga didapatkan bobot ayam yang diinginkan dalam waktu singkat. Padatahun 1950, untuk mencapai bobot 1,8 kg diperlukan waktu pemeliharaan selama 84 hari. Sedangkan untuk saat ini untuk mencapai bobot 1,8 kg diperlukan waktu 28 hari. Hal ini dapat terjadi karena adanya desain pemuliaan yang tepat dan seleksi yang ketat, sehingga membentuk broiler yang tumbuh cepat dari generasi ke generasi. Performa broiler setidaknya ditentukan oleh 3 faktor yaitu genetik, lingkungan dan nutrisi [1,2].

Apa itu selective breeding?

 

Selective breeding ayam broiler. Sumber gambar : http://static.wixstatic.com

Selective breeding adalah serangkaian proses yang dilakukan orang untuk membiakkan makhluk hidup, bisa tanaman dan hewan, untuk mendapatkan ciri khas/bawaan tertentu yang unggul. Proses ini biasanya dilakukan oleh peternak profesional. Seleksi khusus pada ayam telah dilakukan sejak 1.000 tahun yang lalu. Ayam pada zaman dulu hidup liar, dan dilakukan proses domestikasi (pengadopsian hewan dari alam liar ke dalam lingkungan kehidupan sehari-hari manusia) sejak 3.400 tahun yang lalu. Ayam hutan (Jungle Fowl) merupakan nenek moyang ayam saat ini, dan keberadaan ayam hutan masih dapat ditemukan di hutan India dan Asia Tenggara [3,4].

Sejarah seleksi genetik untuk selective breeding terjadi pertama kali di Amerika pada tahun 1940an, dengan diadakannya kontes “ayam untuk esok” oleh American grocer A&P (Atlantic & Pacifik Tea Company). Pada saat final kontes ini, peternak membawa kotak dengan isi 30 lusin telur tetas ke penetasan “Eastern Shore”. Telur-telur tersebut ditetaskan dan dipelihara hingga mencapai berat pasar dan kemudian dipotong. Ayam broiler dinilai berdasarkan kecepatan tumbuh, efisiensi konvesi pakan ke berat badan dan jumlah daging di daerah dada dan paha bawah. Melalui kontes ini peternak yang masuk pemasaran diantaranya adalah Peterson, Vantress, Cobb, Hubbard, Pilch dan Arbor Acres [5].

Peternak broiler pada masa awal beternak hanya mengandalkan seleksi massa atau seleksi individual berdasarkan ciri khas masing-masing ayam. Sebagian besar jenis ayam broiler tumbuh besar dengan cepat. Dengan menggunakan kriteria berat tubuh, maka dilakukan pemilihan ayam jantan dan betina yang memiliki bobot paling berat sebagai metode seleksi utama. Seiring berjalannya permintaan pasar, industri peternakan broiler semakin memahami bahwa faktor berat dan kecepatan pertumbuhan tidak dapat terlepas dari jumlah dan jenis pakan yang diberikan ke ayam. Seiring berjalannya waktu, hal-hal lain seperti kesejahteraan ayam dan keamanan pangan ke manusia menjadi hal yang diperhatikan. Kemudian dibuat peraturan dan perangkatnya untuk melakukan seleksi peternak yang mematuhi keinginan pasar yang terus berkembang. Di akhir tahun 2000, terdapat 3 perusahaan ayam broiler yang berhasil lulus seleksi adalah Cobb-Vantress ( nama dagang: ayam Cobb, Avian, Sasso dan Hybro), Avigen ( nama dagang ayam: Ross, Arbor Acres, Lohmann Indian River dan Peterson), dan Groupe Grimaud (nama dagang ayam : Hubbard dan Grimaud Frere) [5].

Penelitian lanjutan terus dilakukan, hingga pada tahun 2004, terdapat publikasi mengenai susunan genetik ayam yang dapat membantu program beternak ayam komersial. Perusahaan peternakan ayam semakin giat mempelajari susunan gen untuk mendapatkan ayam dengan keturunan yang memiliki ciri khas yang diingkan pasar. Apapun yang peternak pelajari dari genetika ayam ini, kepentingan pasar tetap menjadi hal yang diperhatikan [5].

Jadi, apakah ayam broiler diberi suntikan hormon?

Jawabannya, tidak. Mengapa? Berikut beberapa alasan yang dapat memberikan jawaban yang cukup jelas.

  1. Tidak dibutuhkan

Hubungan antara genetika ayam, kesehatan, nutrisi dan lingkungan telah diteliti selama hampir 60 tahun, untuk mendapatkan broiler yang dapat memenuhi kebutuhan manusia akan protein hewani [5].

Tabel 1. Perkembangan performa ayam dari masa ke masa yang dipengaruhi oleh genetika,nutrisi dan lingkungan [[6]

  1. Pemberian hormon pertumbuhan harus melalui suntikan

Hormon pertumbuhan tidak dapat bekerja bila ditambahkan ke dalam pakan atau minum. Apabila diberikan melalui pakan dan minum, maka ketika masuk ke dalam saluran pencernaan, kandungan hormon pertumbuhan akan rusak. Satu-satunya cara agar hormon pertumbuhan dapat bekerja baik di dalam tubuh broiler adalah dengan jalur penyuntikan satu per satu ayam hampir setiaphari, yang tentunya akan memakan waktu dan tenaga [2, 6].

  1. Membutuhkan biaya yang mahal

Harga hormon pertumbuhan adalah mahal, apalagi jika harus menyuntikkannya ke jutaan broiler. Hal ini akan meningkatkan biaya produksi dan tenaga kerja [6].

  1. Penggunaan hormon pertumbuhan adalah tindakan melanggar hukum

Lembaga resmi makanan dan obat telah melarang penggunaan hormon di industri perunggasan sejak tahun 1960 [6].

 

Referensi:

[1] Trobos livestock. Menepis isu hormon pada broiler. Jumat, 1 Februari 2013. www.trobos.com

[2] Ratna b. wulandari, Ayatrya Utama, Windi Listaningsih. 2011. Liputan khusus :kok broiler cepat bongsor sih? . www.agrina-online.com

[3] http://selectivebreedingprojectchcikens.weebly.com/bibliography.html

[4]https://www.ciwf.org.uk/includes/documents/cm_docs/2008/s/science_worksheets_selective_breeding.pdf

[5] http://en.aviagen.com/assets/Sustainability/50-Years-of-Selection-Article-final.pdf

[6] Susan Watkins, F. Dustan Clark, dan Yvonne Thaxton. Hormones in Our Poultry: Is It for Real? . Division of Agriculture Research &Extensiom University of Arkansas System

Iqbal FathurahmanVetTalkPoultry
Oleh: drh. Dini A. Paramanandi “Jangan terlalu banyak makan daging ayam broiler,karena ayamnya disuntik hormon supaya bisa cepat gemuk”. Pernyataan semacam itu masih menjadi isu hangat yang dibicarakan di masyarakat. Presepsi yang muncul dikarenakan beberapa orang mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi daging ayam akhirnya membentuk presepsi yang salah. Apakah daging...