http://www.worldvet.org

Oleh: Joshua Alif Wendy

Dokter hewan, merupakan salah satu dari sekian banyak profesi yang memiliki tujuan mulia yang secara umum merupakan perantara penyembuhan berbagai penyakit hewan, baik yang menular ke manusia maupun tidak. Kerja kerasnya dalam membantu menyembuhkan penyakit hewan baik itu disebabkan oleh agen penyakit (virus, bakteri, jamur, cacing, dll.), senyawa kimia, dan berbagai faktor lingkungan lainnya membuat profesi ini layak dirayakan dan diberi apresiasi. Apresiasi ini dalam bentuk peringatan World Veterinary Day (WVD) / Hari Kedokteran Hewan Sedunia yang jatuh pada tanggal 29 April yang dinisiasi oleh asosiasi dokter hewan dunia yaitu World Veterinary Association (WVA)  dan organisasi kesehatan hewan dunia (OIE) pada tahun 2000.

Perayaan WVD di seluruh dunia diisi oleh beragam aktivitas diantaranya seminar, workshop, pemeriksaan gratis, kunjungan ke sekolah, dan serangkaian kegiatan lainnya dengan tujuan memberikan informasi kepada khalayak ramai mengenai peran penting dokter hewan dalam berbagai aspek di kehidupan kita. Setiap tahunnya WVA dan OIE mengambil tema yang berbeda-beda dan pada tahun 2017 tema yang diambil adalah  Resistensi Antimikroba / Antimicrobial Resistance (AMR).

Alexander Fleming mendapatkan penghargaan Nobel Prize bidang Kedokteran karena jasanya dalam menemukan penicillin. Sumber gambar: https://en.wikipedia.org

Pada tahun 1874 Sir William Roberts dari Inggris menemukan bahwa pada kultur jamur Penicilium glaucum yang digunakan pada pembuatan beberapa jenis keju tidak ditemukan adanya  kontaminasi bakteri. Penemuan besar penicillin oleh Sir Alexander Fleming di tahun 1928 menjadi awal dalam pengembangan antibiotik lebih lanjut yaitu menuju era industri. Alexander Fleming menyatakan bahwa molekul penicillin yang dihasilkan oleh beberapa jenis jamur bisa membunuh atau menghentikan pertumbuhan beberapa jenis bakteri. Ernst Chain dan Howard Florey kemudian sukses memurnikan penicillin pertama yaitu penicillin G di tahun 1942. Karena kebermanfaatan penemuan penicillin sebagai obat terapi penyakit antibakteri, Alexander Fleming, Ernst Chain dan Howard Florey kemudian anugerahi Nobel Prize in Medicine pada tahun 1945. Industri Farmasi pada tahun 1950 telah memasuki era penelitian dan pengembangan obat yang membuat antibiotik dalam jumlah besar. Kini antibiotik telah dikembangkan menjadi berbagai jenis oleh para peneliti dan telah digunakan diseluruh dunia.

Namun seiring dengan berjalannya waktu akibat penggunaan antimikroba yang berlebihan dan tidak sesuai dengan aturan menimbulkan masalah yang sangat serius dalam dunia obat-obatan yang dikenal dengan istilah ‘Resistensi’. Resistensi secara umum merupakan respon adaptif yang timbul dari mikroorganisme dalam menolerir sejumlah obat yang telah memasuki tubuh. Resistensi secara ilmiah merupakan transfer gen kromosomal dan plasmid yang disebut dengan resistance factor (R) melalui proses yang disebut konjugasi, transformasi dan transduksi.  Mekanisme spesifik yang dilakukan bakteri adalah menginaktivasi melalui enzim, pengurangan permeabilitas obat, eliminasi melalui pompa transpor khusus, mengurangi afinitas obat, dan mematikan jalan metabolik obat dalam tubuh mikroorganisme.

Resistensi antimikroba terjadi ketika mikroorganisme berubah dan berkembang menjadi “superbugs” yang tahan terhadap antimikroba konvensional. Mikroba yang sudah resisten akan menyebabkan antibiotik tidak efektif lagi dalam bekerja sehingga infeksi tidak dapat di eliminasi dari tubuh dan meningkatkan risiko penyebaran infeksi ke individu lainnya. Menurut WHO, setiap tahun sekitar 480.000 orang menjadi resisten terhadap beberapa jenis obat Tuberkolusis (TBC).Terlebih lagi kasus resistensi antimikroba tidak hanya terjadi di manusia, tapi juga terjadi di hewan. Hal ini menyebabkan antibiotik “biasa” sudah tidak mampu lagi melawan mikroba penyebab infeksi yang sudah resisten sehingga hewan lebih sulit untuk disembuhkan dengan antibiotik konvensional.

Bagaimana resistensi antibiotik bisa menyebar baik pada manusia maupun hewan. Sumber gambar: cdc.gov

Peran besar dokter hewan dan mahasiswa kedokteran hewan dalam memerangi resistensi antimikroba pada hewan yaitu memerangi dari dalam dan dari luar. Peran yang dapat kita lakukan dari dalam antara lain dengan mempelajari dan memahami lebih dalam pengetahuan mengenai antimikroba, baik itu dosis, mikroorganisme yang memproduksi, atau bioteknologinya, sedangkan peran ke luar yang dapat kita lakukan yaitu melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko terhadap penyalahgunaan antibiotik dan memberikan strategi yang optimal secara periodik dalam penggunaan antimikroba.

Akhir kata, setiap profesi pada akhirnya juga memerlukan bantuan uluran tangan dari profesi lain karena pada hakikatnya manusia saling membutuhkan. We are connected one to another.

Tetap berkarya dan selamat hari kedokteran hewan bagi semua kolega mahasiswa kedokteran hewan dan calon kolega dokter hewan di masa depan.

Viva Veteriner Indonesia!!!

 

*Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan UGM dan tinggal di Yogyakarta

Editor in ChiefVetTalk2017,amr,antibiotic resistance,antimicrobial resistance,opini,world veterinary day,wvd
Oleh: Joshua Alif Wendy Dokter hewan, merupakan salah satu dari sekian banyak profesi yang memiliki tujuan mulia yang secara umum merupakan perantara penyembuhan berbagai penyakit hewan, baik yang menular ke manusia maupun tidak. Kerja kerasnya dalam membantu menyembuhkan penyakit hewan baik itu disebabkan oleh agen penyakit (virus, bakteri, jamur, cacing,...