Oleh: Iqbal Fathurahman

Toxoplasmosis merupakan salah satu penyakit penting yang bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya) dan banyak kita jumpai hampir di seluruh dunia. Toxoplasmosis merupakan penyakit disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii yang merupakan parasit interseluler obligat [1]. Toxoplasmosis menjadi penyakit yang penting karena dampak fatal yang ditimbulkan pada wanita hamil yakni menyebabkan transmisi secara kongenital yang menyebabkan gangguan perkembangan janin bahkan keguguran yang dapat menyebabkan kematian pada janin [2]. Namun, tidak dipungkiri banyak mitos-mitos yang berkembang di masyarakat mengenai penyakit ini yang belum terbukti kebenarannya. Tak jarang orang-orang berusaha menakut-nakuti orang lain tanpa alasan yang bisa dipertanggung jawabkan. Hal ini mendorong tingkah laku masyarakat yang khawatir akan keberadaan kucing. Berikut adalah ulasan mengenai fakta dan mitos seputar toxoplasmosis:

Gambaran Toxoplasma gondii pada preparat apus darah tikus
Sumber : https://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/

Mitos 1 : Rambut Kucing Merupakan Sumber Penyebar Toxoplasmosis

Fakta 1 : Kotoran Kucing Merupakan Sumber Penyebar Toxoplasmosis

Anggapan rambut kucing dapat menyebabkan penyakit toxoplasmosis ke manusia merupakan anggapan yang kurang tepat. Kucing dapat terinfeksi toxoplasma karena memakan rodensia, burung ataupun hewan kecil lainnya yang sebelumnya sudah terinfeksi oleh toxoplasma. Kotoran kucing merupakan sumber utama dari penyebaran toxoplasmosis. Parasit tersebut nantinya akan dikeluarkan dalam bentuk oosista yang terdapat pada kotoran kucing [2, 3].

Kucing dapat menyebarkan berjuta-juta oosista dalam kotorannya setelah 3 minggu pasca infeksi. Oosista dari Toxoplasma gondii dapat ditemukan pada litter box kucing yang menderita toxoplasmosis maupun di lingkungan sekitar kita, seperti di tanah ataupun pada air yang tercemar oosista toxoplasma [3].

Mitos 2    : Memelihara Kucing Meningkatkan Resiko Terinfeksi Toxoplasma

Fakta 2    : Kurangnya Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat Meningkatkan Resiko  Terinfeksi Toxoplasma

Kucing sebagai hewan kesayangan
Sumber gambar: http://7-themes.com

Manusia dapat secara tidak sengaja terinfeksi oleh toxoplasma jika menelan oosista dari parasit ini. Manusia bisa menelan secara tidak sengaja oosista toxoplasma yang ada pada makanan yang tercemar ataupun dari benda yang sebelumnya pernah kontak dengan kotoran hewan yang terinfeksi toxoplasma [4,5]. Tidak mencuci tangan secara bersih setelah membersihkan litter box kucing yang terinfeksi oleh toxoplasma bisa menjadi salah satu penyebab penularan ke manusia.

Sayuran ataupun buah-buahan yang tidak dicuci secara bersih dapat menyebabkan seseorang terinfeksi oleh toxoplasma. Tidak menggunakan sarung tangan atau pelindung pada saat berkebun juga bisa menjadi sarana penularan penyakit toxoplasmosis. Hal tersebut dikarenakan adanya tanah yang terkontaminasi oleh kotoran hewan yang mengandung toxoplasma [6].

 

Mitos 3    : Makan Sate Kambing dapat Menyebabkan Toxoplasmosis

Fakta  3    : Makan Daging yang Setengah Matang dapat Menyebabkan Toxoplasmosis

Sate Klathak
Sumber: http://www.bango.co.id

            Perlu diketahui bahwa dengan memakan daging yang setengah matang dapat meningkatkan faktor risiko terjadinya infeksi toxoplasma. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan masih hidupnya sista toxoplasma dalam jaringan otot dari hewan yang terinfeksi toxoplasma dan menyebabkan sista tersebut teringesti oleh manusia [4]. Adapun untuk mencegah menularnya toxoplasmosis dapat dilakukan dengan memasak daging pada suhu diatas 70oC [6].

Toxoplasma di Indonesia

            Saat ini di Indonesia kasus toxoplasmosis pada hewan berkisar antara 6-70% sedangkan kejadian pada manusia lebih tinggi yaitu antara 43-88% kasus. Pemahaman masa lalu yang diyakini banyak orang bahwa toxoplasma hanya dapat menimbulkan gejala klinis pada individu yang memiliki respon imun yang rendah terbantahkan karena ternyata adanya bukti bahwa pada individu yang memiliki respon imun yang optimal pun dapat menunjukkan gejala klinis toxoplasmosis. Hal tersebut dapat dikarenakan patogenitas agen penyakit yang variatif tergantung dari klonet atau tipenya [4].

 Siklus Hidup Toxoplasma

Satu-satunya hospes definitif dari Toxoplasma gondii yaitu hewan yang termasuk dalam famili Felidae seperti kucing peliharaan. Oosista yang belum bersoprulasi akan terdapat pada kotoran kucing yang terinfeksi Toxoplasma (1). Oosista pada kotoran membutuhkan waktu 1-5 hari untuk bersporulasi pada lingkungan dan selanjutnya bersifat infektif. Hospes intermediet seperti burung ataupun rodensia dapat terinfeksi setelah menelan oosista pada tanah, air ataupun tumbuhan yang tercemar (2). Oosista selanjutnya akan berubah menjadi takizoit langsung setelah teringesti. Takizoit tersebut akan terletak pada jaringan syaraf maupun otot dari tubuh hospes intermediet dan berkembang menjadi sista bradizoit pada jaringan (3). Kucing dapat terinfeksi oleh Toxoplasma akibat menelan secara langsung oosista yang telah bersoprulasi tersebut (4). Hewan ternak yang dagingnya dikonsumsi oleh manusia pun dapat terinfeksi Toxoplasma dengan ditemukannya sista pada jaringan saraf dan otot setelah tidak sengaja menelan oosista yang telah bersoprulasi di lingkungan (5). Adapun pada manusia, Toxoplasma dapat menginfeksi melalui beberapa rute yaitu dengan memakan daging hewan yang belum matang yang didalamnya terdapat sista Toxoplasma (6), mengonsumsi makanan atau air minum yang terkontaminasi dengan kotoran kucing yang terinfeksi Toxoplasma (7), transfusi darah dan transplantasi organ (8) dan melalui transplasental antara ibu dan janin (9).
Sumber : https://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/biology.html

            Siklus hidup toxoplasma secara garis besar terbagi atas dua siklus antara lain siklus secara seksual (schizogoni) dan secara aseksual (gametogoni). Kedua siklus hidup ini dapat terjadi pada hospes definitif berupa kucing sedangkan pada hospes perantara (burung, hewan mamalia, manusia) hanya terjadi siklus hidup secara aseksual. Siklus hidup secara aseksual terjadi karena parasit hanya berkembang dan mengalami pembelahan vegerarif dengan cara membelah diri pada tubuh hospes perantara, sedangkan pada siklus hidup seksual terjadi karena adanya peleburan gamet yang masing-masing berisi kromosom haploid [3,4].

Nah, sekarang setelah tahu mitos dan fakta seputar toxoplasmosis kita bisa lebih menjaga diri dan mencegah penyebaran penyakit ini. Pola hidup sehat dan bersih menjadi kunci utama pemberantasan penyakit ini. Jangan lupa jaga kesehatan hewan peliharaan dengan rutin memeriksakannya ke dokter hewan agar hewan peliharaan kita terbebas dari penyakit toxoplasmosis.

Referensi :

[1] Saadatnia, G., Golkar, M. 2012. A Review on Human Toxoplasmosis. Scandinavian Journal of Infectious Diseases. 1-10.

[2] Paquet, C., Yudin, M.H. 2013. Toxoplasmosis in Pregnancy: Prevention, Screening, and Treatment. JOGC JANVIER. 285 : 81-87.

[3] Anonim. 2017. https://www.cdc.gov/parasites/toxoplasmosis/index.html. Diakses pada 21 April 2017.

[4] Dirjennak Keswan Kementan. 2014. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Jakarta : Kementerian Pertanian.

[5] Bresciani, K.D.S., Galvão, A.L.B., de Vasconcellos, A.L., Soares, J.A., de Matos, L.V.S., Pierucci, J.C., Neto, L.S., Rodrigues, T.O., Navarro, I.T., Gomes, J.F., da Costa, A.J. 2013. Relevant aspects of human toxoplasmosis. Research Journal of Infectious Diseases. 1-7.

[6] Jones, J.L., Dubey, J.P. 2012. Foodborne Toxoplasmosis. Food Safety. 55 : 845-851.

 

 

Editor in ChiefVetHealthOneHealth,Pet and Exotic
Oleh: Iqbal Fathurahman Toxoplasmosis merupakan salah satu penyakit penting yang bersifat zoonosis (menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya) dan banyak kita jumpai hampir di seluruh dunia. Toxoplasmosis merupakan penyakit disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii yang merupakan parasit interseluler obligat . Toxoplasmosis menjadi penyakit yang penting karena dampak fatal yang...