Ular merupakan salah satu reptil yang diminati masyarakat sebagai hewan eksotis yang dipelihara di rumah. Namun, ternyata ular juga bisa menularkan penyakit zoonosis bakterial apabila kita tidak waspada. Sumber foto: drh. Afif Makrom

 

Memelihara reptil seperti ular, iguana, tokek, gecko, bunglon maupun kura-kura sebagai hewan eksotik kesayangan ternyata tidak boleh sembarangan. Penanganan yang buruk dan kurangnya kewaspadaan pemilik justru bisa membahayakan banyak orang hingga menyebabkan kematian. Untuk itu kita harus waspada terhadap potensi penyakit zoonosis yang bisa ditularkan oleh reptil ke manusia. Berikut adalah 5 penyakit bakterial pada reptil yang bisa menular ke manusia:

  1. Salmonellosis

Penyakit salmonellosis disebabkan oleh bakteri Gram negatif Salmonella spp. Reptil yang terkena salmonellosis biasanya menunjukkan gejala diare, namun terkadang reptil sebagai carrier tidak menunjukkan gejala sama sekali. Penularanya ke Manusia biasanya melalui rute fecal-oral yaitu ditularkan melalui kotoran yang mengandung bakteri Salmonella spp. yang kemudian masuk tertelan dan masuk ke saluran pencernaan manusia. Penularan bisa  terjadi pada saat handling maupun kontak dengan benda-benda yang terkontaminasi kotoran reptil yang menderita salmonellosis [1]. Bakteri Salmonella spp. dapat bertahan hidup dan tetap bersifat virulen selama dan 4 bulan pada air kolam dan  3 bulan pada air minum [2]

  1. Aeromoniasis

Penyakit aeromoniasis disebabkan oleh bakteri Aeromonas spp. Biasanya bakteri aeromonas pada reptil menyebabkan hewan menderita ulcerative stomatitis (sariawan), anoreksia, pneumonia,  septicemia dan perdarahan pada kulit maupun organ lain yang terinfeksi bakteri. Pada manusia bakteri aeromonas menimbulkan diare profus, demam, sakit perut, mundah, infeksi kulit dan selulitis [1]. Penularan pada manusia biasanya melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi maupun air atau alat-alat kandang reptil yang tercemar bakteri.

  1. Mycobacteriosis

Penyakit mycobacteriosis atau sering di kenal dengan tuberkolusis adalah penyakit yang sangat penting bagi dunia kedokteran manusia dan hewan di seluruh dunia. Walaupun penyakit ini lebih sering menyerang mamalia namun kasusnya pada reptil cukup banyak dan perlu diwaspadai [3]. Kadal, ular dan buaya yang terinfeksi Mycobacterium spp. biasanya muncul noduli granuloma pada organ dalamnya seperti hati, paru-paru, dan tulang. Selain organ dalam, noduli juga bisa ditemukan di mata, bawah kulit, mulut (dalam bentuk ulcerative stomatitis/sariawan), dan sistem syaraf. Sedangkan pada kura-kura dan penyu, biasanya hewan yang mengidap mycobacteriosis ini menunjukkan gejala gangguan pernafasan [4,5]. Penularan ke manusia bisa terjadi pada saat kontak dengan hewan penderita, luka tusuk yang terinfeksi, cakaran maupun melalui udara. Gejala yang muncul pada manusia antara lain munculnya lesi granulomatosa pada tempat infeksi. Pada manusia yang daya tahan tubuhnya rendah,penyakit ini bisa berkembang menjadi penyakit yang menyerang pernafasan,  radang sendi, dan radang nodus limfe [2].

  1. Campylobacteriosis

Campylobacteriosis pada reptil biasanya tidak menimbulkan gejala pada individu yang menjadi carrier. Lain halnya dengan manusia, orang yang terkena campylobacteriosis adakan mengalami diare, keram perut, sakit perut, dan demam. Sumber penularan campylobacteriosis biasanya melalui rute fecal-oral yaitu melali kotoran reptil yang mengandung bakteri kemudian tertelan melali mulut dan masuk ke saluran pencernaan. Manusia dapat tertular penyakit ini dari reptil pada saat kontak langsung dengan peralatan maupun tempat-tempat yang tercemar kotoran hewan penderita [1,2].

  1. Botulisme

Penyakit Botulisme disebabkan oleh bakteri anaerobik Clostridium botulinum, Clostridium butyricum dan Clostridium baratii [5]. Bakteri ini memproduksi toksin syaraf aktif yang dapat menyebabkan nekrosis tubulus ginjal serta  hemolysis intravascular yaitu terjadinya destruksi sel darah merah di dalam pembuluh darah [5,6]. Botulisme merupakan penyakit yang fatal dan serius pada manusia karena bisa menyebabkan paralisis [5]. Clostridium botulinum menyebabkan penyakit “floppy flipper disease”atau “penyakit sirip terkulai” pada pada penyu hijau (Chelonia mydas) yang menyebabkan penyu hilang keseimbangan dan akhirnya tenggelam. Clostridium spp. juga dilaporkan sebagai flora normal di dalam mulut alligator (Aligator mississippiensis) [6]. Penularan botulisme bisa melalui luka gigitan yang terinfeksi toksin bakteri, dari air dan lingkungan yang tercemar bakteri serta melalui makananan (foodborne botulism).

 

Potensi zoonosis dari reptil sebagai hewan eksotis perlu diperhatikan oleh pemilik, dokter hewan, peneliti, staff yang bekerja dengan hewan ini pada fasilitas tertentu maupun dengan produk asal hewan tersebut. Untuk itu perlu di wujudkan “Safe Work Practice antara lain :

Good Personal Hygiene: Mencuci tangan setelah bekerja atau berinteraksi dengan hewan dan produk asal hewan. Jangan makan atau minum di lingkungan kerja dengan hewan/produk asal hewan [1].

Personal Protective Equipment: Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai (jas/pakaian lapangan, sepatu/boots yang sesuai, penutup muka, masker dan respiratoir) dan jangan menggunakan pakaian ini di luar lingkungan hewan [1].

Animal Care:  Pisahkan dan isolasi hewan yang sakit. Konsultasikan kepada dokter hewan agar segera ditangani.

Cleaning and Desinfection: Jaga kondisi kandang reptil tetap bersih baik dalam kondisi kering atau basah tergantung pada kebutuhan reptil. Lakukan desinfeksi secara berkala dan buang bangkai/peralatan yang tercemar di tempat yang sesuai dan cara yang benar.

Medical Attention:  Segera laporkan apabila terjadi gejala penyakit yang diduga ditularkan dari reptil kepada staff medis/dokter.

Proper Sharps Handling: Jangan gunakan jarum yang sama pada hewan yang berbeda, sekali pakai, dan buang benda tajam ini dengan cara yang benar dan di tempat yang semestinya.

 

                Referensi

 

[1]. Anonim. 2017. Potential Zoonoses/Hazards Associated with Reptils. Cornell University Center for Animal Resources and Education https://ras.research.cornell.edu/care/documents/OHS/zoonosis_information_sheet_reptils.pdf

[2] Anonim. 2017. Zoonoses Of Fish, Amphibians And Reptils. Austin Peay State University https://www.apsu.edu/files/iacuc/Zoonoses-fish-reptils-amphibians.pdf

[3] Mitchell, M., A. 2012. Mycobacterial infections in reptils. Vet Clin North Am Exot Anim Pract. 15(1):101-11, vii. DOI: 10.1016/j.cvex.2011.10.002. Epub 2011 Dec 16.

[4] Divers, S. 2016. Bacterial Diseases of Reptils. http://www.merckvetmanual.com/exotic-and-laboratory-animals/reptils/bacterial-diseases-of-reptils

[5] CDC. 2017. Botulism. https://www.cdc.gov/botulism/index.html

[6] Stewart, J.S. 1990. Anaerobic Bacterial Infections in Reptils. Journal of Zoo and Wildlife Medicine Vol. 21, No. 2  pp. 180-184

Penulis: drh. Istianah Maryam Jamilah

Editor in ChiefVetHealthPet and Exotic,Wild Animal
  Memelihara reptil seperti ular, iguana, tokek, gecko, bunglon maupun kura-kura sebagai hewan eksotik kesayangan ternyata tidak boleh sembarangan. Penanganan yang buruk dan kurangnya kewaspadaan pemilik justru bisa membahayakan banyak orang hingga menyebabkan kematian. Untuk itu kita harus waspada terhadap potensi penyakit zoonosis yang bisa ditularkan oleh reptil ke manusia....