Menjaga hewan sebagai hewan peliharaan dapat merugikan kesehatan hewan itu sendiri dan pemiliknya jika persyaratan tertentu tidak terpenuhi. Hewan peliharaan membutuhkan tidak hanya cinta dari pemiliknya, namun pakan yang bernutrisi, dan lingkungan yang sesuai, bersih dan aman [1]. Berbagai penyakit dapat muncul dan mengganggu kesehatan hewan peliharaan maupun sang pemilik. Salah-satu penyakit parasitik yang sering menyerang pada kucing dan anjing adalah helmintiasis atau “cacingan”. Infestasi parasit khususnya cacing pada tubuh hewan dapat menurunkan sistem imun dan memudahkan masuknya agen-agen infeksius lainnya seperti bakteri dan virus baik pada sistem tubuh yang sama atau yang berbeda. Terlebih lagi karena cacing ini dapat menyerang manusia baik sebagai larva migran maupun parasit yang dapat menimbulkan gejala klinis.  Penyakit cacingan yang disebabkan cacing kait juga termasuk dalam kategori penyakit zoonosis karena dapat ditularkan dari hewan ke manusia. 

Cacingan karena Cacing Kait

Infestasi cacing kait pada hewan disebabkan oleh cacing nematoda Ancylostoma sp dan Uncinaria stenocephala [2].  Penyakit cacing ini banyak ditemukan di daerah lembab. Hampir di semua bagian dunia dapat dijumpai hewan kesayangan penderita, dari yang bersifat subklinis sampai yang akut. Tempat Ancylostoma sp. hidup, makan dan menginfeksi hostnya adalah pada mukosa usus halus [3]. Pada manusia juga dapat ditemukan cacing kait yang berparasit  dan menimbulkan  gejala infeksi di tubuh yaitu Ancylostoma ceylanicum. Untuk spesies lain seperti A. braziliense, A. caninum, Uncinaria stenocephala dapat melakukan penetrasi ke kulit manusia sebagai larva migran tapi tidak berkembang lebih jauh [2]

Ada beberapa spesies Ancylostoma pada kucing antara lain A. caninum dan A. tubaeforma. A. tubaeforma hanya ditemukan pada kucing sedangkan A. caninum bisa ditemukan pada anjing dan kucing di seluruh dunia. Perbedaan kedua jenis Ancylostoma ini adalah pada ukuran cacingnya, dimana A. caninum berukuran lebih besar pada ukuran tubuh, gigi esofagus yang lebih besar, bursa lebih besar, dan ekor betina yang lebih tumpul dibanding A. tubaeforma. Pada ukuran telur kedua spesies Ancylostoma ini memiliki kisaran yang sampir sama yaitu sekitar 40-60 μm, sehingga kedua spesies ini tidak bisa dibedakan hanya dari morfologi telur dan ukuranya [4, 5]

Bagaimana hewan peliharan dan manusia dapat tertular?

Telur disebarkan melalui feses/ kotoran (1), dan pada kondisi yang mendukung (lembab, hangat dan jauh dari sinar matahari), larva menetas dalam 1 sampai 2 hari. Larva rhabditiformis tumbuh di kotoran atau tanah (2), dan setelah 5- 10 hari mengalami 2 kali pergantian kulit mereka berubah menjadi larva filariformis (third-stage) yang infektif (3). Larva infektif ini dapat bertahan 3-4 minggu pada kondisi lingkungan yang sesuai. Kontak pada hewan (4), larva masuk ke dalam kulit dan dibawa melalui kulit, kemudian masuk ke pembuluh darah, ke jantung, lalu ke paru-paru, kemudian naik ke bronkus, faring dann tertelan ke saluran pencernaan. Larva kemudian menempati usus halus dan menjadi dewasa. Cacing dewasa ada di lumen usus halus dan mengaitkan diri ke dinding usus. Beberapa larva terjebak di jaringan dan dapat menjadi sumber infeksi pada anak anjing melalui rute transmammari/ susu induk ( juga dimungkin melalui plasenta) (5). Manusia juga bisa terinfeksi larva filariformis yang masuk ke kulit (6). Sumber: https://www.cdc.gov/parasites/images/zoonotichookworm/clm_lifecycle.gif

 

Proses infeksi ke dalam tubuh hospes dapat berlangsung melalui berbagai cara, antara lain per oral, infeksi melalui kulit (per kutan), infeksi trans-mamaria (melalui air susu induk ke anak), intra uterus (pada saat kehamilan), dan infeksi melalui hospes paratenik  [3,6]. Cacing betina dewasa bertelur di usus halus, dimana telur akan berkembang sebelum dikeluarkan. Telur menetas kemudian berkembang menjadi L1, selanjutnya berkembang menjadi L2, dan berkembang menjadi L3 lalu keluar bersama feses. L3 merupakan stadium infektif dari cacing Ancylostoma sp., larva ini menginfeksi hospes melalui dua jalur yaitu per oral atau per kutan. Pada infeksi per oral, larva tertelan lalu masuk ke dalam kelenjar lambung atau kelenjar lieberkuhn usus halus. Kemudian larva kembali ke lumen usus menembus kapiler darah dan migrasi ke paru – paru dimana stadium selanjutnya akan sama dengan infeksi secara per kutan. Bila melalui jalur per kutan maka L3 secara aktif menembus kulit hospes. Mereka membuat lubang melalui jaringan sampai mencapai pembuluh darah atau pembuluh limfe. Kemudian melalui sistem vena atau saluran limfe thorak menuju ke jantung dan selanjutnya ke paru-paru. Larva menembus kapiler menuju menuju alveoli dan naik menuju bronkioli dan bronki. Pada bronki dan trakea larva menjadi L4 kemudian menuju faring dan oesophagus dan turun kembali ke usus halus. Di sini larva akan berkembang menjadi cacing dewasa [6,7]

Seperti apa gejalanya?

Infestasi cacing kait dapat menyebabkan anemia dalam waktu singkat, terutama pada individu muda. Darah yang mengucur akan tercampur dengan feses dan menyebabkan melena. Feses bersifat lunak, berwarna gelap. Gejala anemia dapat dilihat dari pucatnya selaput lenciri multu, mata, vagina, maupun dari kulit, terutama di daerah perut. Radang yang ditimbukan dapat menyebabkan menyemptnya saluran empedu. Bila emperdu tertahan dapat menyebabkan bilirubinemia (ikterus) [3]. Selain yang dijelaskan di atas, migrasi larva pada pulmo menyebabkan adanya gangguan pernafasan. Pada kasus kronis, hewan terinfeksi akan mengalami kekurusan, kulit memburuk, dan kehilangan nafsu makan. Ditemukan pula adanya lesi pada kulit dan kelesuan [6]. Menurut Foreyt (2001) [5] Ancylostoma sp. pada kucing dapat menyebabkan interdigital dermatitis, lesi pada pulmo pada infestasi berat, anemia dan rambut yang kusam.

Apabila kita melihat gejala klinis diatas, mungkin ada baiknya kita melakukan pemeriksaan ke dokter hewan, untuk selanjutnya dilakukan diagnosa, terapi dan pencegahan terulangnya penyakit yang sama. Karena penyakit ini termasuk zoonosis, pengobatan dan pencegahan sangat perlu dilakukan agar cacing ini tidak menginfeksi manusia.

Lebih lanjut baca mengenai diagnosa, terapi dan pencegahan infestasi cacing kait di sini….. https://vetindonesia.com/2017/04/09/waspada-cacing-kait-pada-hewan-kesayangan-bagian-2/

Penulis: drh. Istianah Maryam Jamilah

Referensi

[1] Kahn, C. M. dan Line, S. 2007. The Merck/Merial Manual for Pet Health: Home Edition. Merck &Co.: New Jersey.

[2]https://www.cdc.gov/parasites/zoonotichookworm/biology.html

[3]  Subronto. 2010. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba Pada Anjing dan Kucing. Gadjah

Mada Unviersitiy Press, DI Yogyakarta.

[4] Burrows, R.B. 1962. Comparative morphology of Ancylostoma tubaeforme (Zeder, 1800) and Ancylostoma caninum (Ercolani, 1859). The Journal of Parasitology 48(5): 715-718.

[5] Foreyt, W. 2001. Veterinary Parasitology Reference Manual 5th ed. Blackwell: London.

[6] Urquhart, G. M., Armour, J., Duncan, J. L., Dunn, A. M., Jennings, F. W. 1996.
Veterinary Parasitology 2nd Edition. Balckwell Science. London.

[7] Levine N.D. 1994. Teksbook of Veterinary Parasitology. Burgers Publishing Company. Terjemahan: Ashadi G. 1990. Wardiarto Ed. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Editor in ChiefVetHealthPet and Exotic
Menjaga hewan sebagai hewan peliharaan dapat merugikan kesehatan hewan itu sendiri dan pemiliknya jika persyaratan tertentu tidak terpenuhi. Hewan peliharaan membutuhkan tidak hanya cinta dari pemiliknya, namun pakan yang bernutrisi, dan lingkungan yang sesuai, bersih dan aman . Berbagai penyakit dapat muncul dan mengganggu kesehatan hewan peliharaan maupun sang...