Oleh: drh. Istianah Maryam Jamilah, Editor in chief VetIndonesia

Apa itu Upsus Siwab?

Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (Upsus Siwab)  merupakan program yang di canangkan oleh Kementrian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan dasar hukum Permentan No 48 tahun 2016 [1]. Program ini menjadi prioritas pembangunan peternakan di Indonesia. Diharapkan dengan adanya program ini akan terjadi percepatan peningkatan populasi ternak ruminansia besar baik sapi perah, sapi potong maupun kerbau. Program ini telah berlaku sejak 3 Oktober 2016, semenjak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menandatanganinya di Jakarta.

Upsus Siwab dibebankan pada APBN Kementrian Pertanian, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten Kota. Menurut Dirjen PKH I Ketut Diarmita, pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp. 1,1 Trilyun rupiah untuk program ini [2,3] dengan harapan akan didapatkan sebanyak 3 juta kebuntingan di tahun 2017.

Siapa panitia pelaksananya?

Upsus Siwab dilakukan oleh pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten kota. Kelompok kerja pusat ditentukan oleh Menteri Pertanian, provinsi oleh Gubernur  dan kabupaten/Kota ditetapkan oleh Bupati/walikota.

Tujuan Upsus Siwab

Peningkatan populasi ternak bertujuan untuk memenuhi kebutuhan  produk hewan dalam negeri terhadap daging dan susu.

Target Utama Upsus Siwab

Target utama Upsus Siwab adalah Ternak Ruminansia Indukan yaitu ternak betina bukan bibit yang memiliki organ reproduksi normal dan sehat untuk pengembangbiakan.

Kegiatan Upsus Siwab

Kegiatan Upsus Siwab di suatu wilayah meliputi:

  1. Pencatatan (Rekording)
  2. Pemeriksaan Kebuntingan
  3. Penanganan Gangguan Reproduksi (Gangrep) dan/atau
  4. Pemenuhan hijauan pakan ternak dan konsentrat

Upsus Siwab dilakukan melalui Inseminasi Buatan (IB) (pemeliharaan ternak intensif/semi intensif) atau kawin alam (pemeliharaan ekstensif) dengan menerapkan sistem manajemen reproduksi. Sebelum dilakukan IB ternak dilakukan pemeriksaan status reproduksi dan gangguan reporduksi (gangrep) yang terjadwal, serentak dan terintegrasi dan difasilitasi oleh gubernur dan bupati/walikota.

Pemeriksaan Status Reproduksi

Pemeriksaan status reproduksi dilakukan dengan palpasi rectal atau USG dan dilakukan oleh Petugas PKB, ATR atau Medik Reproduksi (Dokter Hewan). Ternak yang tidak bunting dengan status reproduksi normal ditetapkan sebagai akseptor IB, sedangkan yang tidak bunting mengalami gangrep ditetapkan sebagai target Gangrep. Hasil pemeriksaan in kemudian direkomendasikan kepada Medik Reproduksi sebagai dasar Surat Keterangan Status Reproduksi (SKSR). Target gangrep yang bisa disembuhkan (fausta) direkomendasikan sebagai akseptor.

Peningkatan jumlah teknisi IB

Dalam rangka meningkatkan jumlah teknisi IB, berdasarkan Permentan 48/2016 Dinas Provinsi atau Kepala DInas Kabupaten/Kota dapat menugaskan inseminator dan petugas PKB yang ada di suatu wilayah tetapi belum memiliki izin untuk melakukan IB dan pemeriksaan kebuntingan ternak. Selain itu juga bisa dilakukan mengirimkan calon inseminator dan petugas PKB untuk dilatih (Pelatihan dan Bimbingan Teknis/ BIMTEK ) di institusi kompeten.

Pemeriksaan Kebuntingan

Pemeriksaan kebuntingan hasil IB/kawin alam dilakukan paling cepat 2 bulan. Apabila terjadi kebuntingan, segera dilakukan recording, dan direkomendasikan untuk dipelihara dan ditingkatkan kesehatanya untuk menjamin kebuntingan sampai melahirkan. Apabila sapi tidak bunting dilakukan pemeriksaan lanjutan.

Pengendalian Betina Produktif

Ternyata dalam permentan 48/2016 tentang Upsus Siwab ini juga menjelaskan mengenai pengendalian betina produktif dimana harus dilakukan untuk menyelamatkan betina produktif dari pemotongan dan mempertahankan/meningkatkan jumlah akseptor. Hal ini dilakukan dengan pengawasan dan pemeriksaan Surat Keterangan Status Reproduksi (SKSR) yang dilakukan di RPH, Kelompok Ternak, Pasar Hewan, check point, pedagang/pengumpul ternak dan wilayah sumber ternak oleh “kelompok penyelamatan” yang dibina oleh unit kerja terkait.

Penguatan Pakan (Hijauan dan Konsentrat)

Untuk memenuhi kebutuhan Upsus Siwab dikakukan penguatan pakan ternak dengan melakukan penyediaan benih/bibit hijauan pakan ternak, penyediaan lahan, penyesuaian jenis hijauan sesuai lokasi dan memastikan air selalu tersedia. Untuk pakan konsentrat dilakukan pada daerah yang memiliki kasus Gangrep yang tinggi.

 

Referensi

[1] Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 48/Permentan/PK.210/10/2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting. http://perundangan.pertanian.go.id/admin/file/Permentan%2048-2016%20Upsus%20Sapi%20Bunting.pdf

[2] http://www.antarantb.com/berita/32322/kementan-anggarkan-rp11-triliun-untuk-upsus-siwab

[3] http://www.liputanusantara.com/ekonomi/kementan-tingkatkan-populasi-sapi-program-siwab-2017-anggarkan-rp11-triliun

 

 

Editor in ChiefVetTalkbunting,dokter hewan,kementan,kerbau,Sapi,upsus siwab,wajib
Oleh: drh. Istianah Maryam Jamilah, Editor in chief VetIndonesia Apa itu Upsus Siwab? Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (Upsus Siwab)  merupakan program yang di canangkan oleh Kementrian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan dasar hukum Permentan No 48 tahun 2016 . Program ini menjadi prioritas pembangunan peternakan...